Kredit Usaha Rakyat (KUR) masih menjadi salah satu jalur pembiayaan paling dicari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Alasannya sederhana: bunganya disubsidi pemerintah sehingga jauh lebih rendah daripada kredit komersial biasa, dan pinjaman sampai Rp100 juta tidak boleh dipersyarati agunan tambahan oleh bank penyalur. Namun justru karena populer, informasi tentang KUR sering bercampur antara aturan resmi, kebijakan bank penyalur, dan klaim dari pihak yang tidak berwenang. Artikel ini merangkum ketentuan KUR yang berlaku pada 2026 berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko) Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, yang menurut keterangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mulai berlaku sejak 13 Januari 2026, ditambah cara menghitung cicilan dan daftar periksa sebelum Anda menandatangani akad kredit.
Satu hal penting sejak awal: KUR bukan bantuan hibah dan bukan dana yang wajib diterima semua pelaku usaha. KUR adalah kredit program. Bank penyalur tetap menilai kelayakan usaha Anda, riwayat kredit Anda, dan kemampuan Anda membayar cicilan. Memahami syarat, plafon, dan bunga sejak awal akan menghemat waktu Anda — dan mencegah Anda terjebak pada tawaran “KUR cepat cair” dari pihak yang meminta biaya di muka, padahal pengajuan KUR resmi tidak bekerja seperti itu.
- Poin Kunci
- Daftar Isi
- Apa Itu KUR dan Mengapa Bunganya Bisa Rendah
- Jenis KUR 2026: Super Mikro, Mikro, dan Kecil
- KUR Super Mikro
- KUR Mikro
- KUR Kecil
- Siapa yang Bisa Menerima KUR
- Syarat Umum dan Dokumen yang Perlu Disiapkan
- Syarat umum
- Dokumen yang perlu disiapkan
- Tips menyiapkan dokumen
- Cara Menghitung Cicilan KUR: Rumus dan Simulasi
- Rumus angsuran anuitas
- Simulasi cicilan
- Cara menilai kemampuan membayar
- Langkah Mengajukan KUR ke Bank Penyalur
- Memantau status pengajuan
- Kesalahan yang Sering Membuat Pengajuan KUR Ditolak
- KUR Dibandingkan dengan Pinjaman Usaha Lainnya
- Daftar Periksa Sebelum Menandatangani Akad
- FAQ
- Apakah semua UMKM pasti disetujui KUR?
- Berapa plafon KUR tertinggi pada 2026?
- Apakah KUR sampai Rp100 juta benar-benar tanpa agunan?
- Apakah usaha baru bisa mengajukan KUR?
- Apakah NPWP wajib untuk semua pengajuan KUR?
- Bagaimana cara mengecek apakah pengajuan KUR saya diproses?
- Kesimpulan
- Sumber Resmi yang Dirujuk
Poin Kunci
- KUR 2026 mengacu pada Permenko Nomor 1 Tahun 2026, berlaku sejak 13 Januari 2026 menurut Kemenko Perekonomian.
- Tiga jenis KUR yang paling umum untuk UMKM: Super Mikro (paling banyak Rp10 juta, bunga 3 persen efektif per tahun), Mikro (di atas Rp10 juta sampai Rp100 juta), dan Kecil (di atas Rp100 juta sampai Rp500 juta).
- Bunga KUR Mikro dan Kecil mulai 6 persen efektif per tahun untuk sektor produksi dan perdagangan berorientasi ekspor; untuk perdagangan non-ekspor, bunga naik bertahap sesuai urutan akad (Mikro 6 persen lalu 7 persen; Kecil 6 persen sampai 9 persen).
- Pinjaman sampai Rp100 juta tidak boleh dipersyarati agunan tambahan oleh penyalur KUR, sesuai Pasal 20 Permenko 1/2026.
- Usaha untuk KUR Mikro dan Kecil pada umumnya harus sudah berjalan sekurang-kurangnya enam bulan, dan NPWP diperlukan untuk KUR Mikro di atas Rp50 juta serta untuk KUR Kecil.
- Hitung cicilan sebelum mengajukan: pinjaman Rp50 juta dengan bunga 6 persen efektif selama 36 bulan menghasilkan angsuran sekitar Rp1,52 juta per bulan menurut perhitungan anuitas (ilustrasi, bukan angka penawaran bank).
- Artikel ini adalah edukasi umum, bukan saran keuangan atau rekomendasi pinjaman pribadi. Keputusan mengambil kredit tetap harus disesuaikan dengan arus kas usaha Anda.
Daftar Isi
- Apa Itu KUR dan Mengapa Bunganya Bisa Rendah
- Jenis KUR 2026: Super Mikro, Mikro, dan Kecil
- Syarat Umum dan Dokumen yang Perlu Disiapkan
- Cara Menghitung Cicilan KUR: Rumus dan Simulasi
- Langkah Mengajukan KUR ke Bank Penyalur
- Kesalahan yang Sering Membuat Pengajuan KUR Ditolak
- KUR Dibandingkan dengan Pinjaman Usaha Lainnya
- Daftar Periksa Sebelum Menandatangani Akad
- FAQ
- Kesimpulan
- Sumber Resmi yang Dirujuk
Apa Itu KUR dan Mengapa Bunganya Bisa Rendah
KUR adalah kredit atau pembiayaan program pemerintah yang ditujukan untuk usaha produktif, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah. Pemerintah memberikan subsidi bunga kepada bank penyalur, sehingga bunga yang dibayar debitur lebih rendah daripada bunga kredit komersial tanpa subsidi. Inilah alasan bunga KUR bisa berada di kisaran 3 sampai 9 persen efektif per tahun, sementara kredit usaha tanpa subsidi biasanya jauh lebih tinggi.
Subsidi ini juga menjelaskan mengapa KUR memiliki aturan main yang ketat. Karena memakai dana subsidi, pemerintah mengatur siapa yang boleh menerima, berapa plafonnya, dan bagaimana penyalur menagihnya. Bank penyalur — bank umum, bank syariah, dan lembaga pembiayaan lain yang ditunjuk — tetap melakukan analisis kredit seperti biasa. Mereka memeriksa legalitas usaha, laporan keuangan sederhana atau catatan penjualan, dan riwayat kredit calon debitur melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Usaha yang layak dan debitur yang rekam kreditnya bersih jauh lebih mudah disetujui.
Perlu dibedakan antara tiga hal yang sering tertukar. Pertama, KUR adalah kredit yang wajib dibayar kembali beserta bunganya. Kedua, bantuan sosial dan hibah pemerintah tidak perlu dibayar kembali, tetapi memiliki mekanisme dan sasaran yang berbeda. Ketiga, pinjaman online dan kredit tanpa subsidi tidak memakai skema KUR, sehingga bunga dan risikonya berbeda. Jika ada pihak yang mengaku bisa “mencairkan KUR” dengan imbalan biaya administrasi di muka di luar ketentuan bank, berhati-hatilah: pengajuan KUR resmi dilakukan melalui bank penyalur atau kanal resmi yang ditunjuk, bukan lewat perantara berbayar yang tidak jelas.
Jenis KUR 2026: Super Mikro, Mikro, dan Kecil
Permenko 1/2026 mengatur beberapa jenis KUR, tetapi tiga jenis berikut yang paling relevan bagi pelaku UMKM pada umumnya. Tabel di bawah merangkum plafon dan bunga berdasarkan ketentuan tersebut sebagaimana disampaikan dalam keterangan dan pemberitaan resmi Kemenko Perekonomian pada Oktober 2026. Detail teknis di bank penyalur tertentu dapat berbeda dalam pelaksanaannya, jadi konfirmasikan angka final pada penawaran tertulis bank sebelum menandatangani apa pun.
| Jenis KUR | Plafon per akad | Bunga efektif per tahun |
|---|---|---|
| KUR Super Mikro | Paling banyak Rp10 juta | 3 persen |
| KUR Mikro | Di atas Rp10 juta sampai Rp100 juta | 6 persen untuk sektor produksi dan perdagangan berorientasi ekspor; perdagangan non-ekspor 6 persen pada akad pertama dan 7 persen pada akad kedua |
| KUR Kecil | Di atas Rp100 juta sampai Rp500 juta | 6 persen untuk sektor produksi dan perdagangan berorientasi ekspor; perdagangan non-ekspor naik bertahap dari 6 persen pada akad pertama hingga 9 persen pada akad keempat |
KUR Super Mikro
KUR Super Mikro ditujukan antara lain bagi pengusaha pemula, ibu rumah tangga yang menjalankan usaha produktif, dan pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja lalu merintis usaha. Plafonnya paling banyak Rp10 juta per akad dengan bunga 3 persen efektif per tahun. Skema ini menjadi pintu masuk bagi usaha yang baru berjalan dan belum memiliki catatan keuangan panjang, karena persyaratannya lebih ringan daripada KUR Mikro dan Kecil.
KUR Mikro
KUR Mikro adalah jenis yang paling banyak diajukan pelaku UMKM. Plafonnya di atas Rp10 juta sampai Rp100 juta per akad. Bagi sektor produksi dan perdagangan berorientasi ekspor, bunganya 6 persen efektif per tahun. Bagi perdagangan non-ekspor, bunga berlaku 6 persen pada akad pertama dan 7 persen pada akad kedua. Keuntungan besar KUR Mikro adalah tidak adanya kewajiban agunan tambahan sampai plafon Rp100 juta — ketentuan ini ditegaskan dalam Pasal 20 Permenko 1/2026, sehingga bank penyalur tidak boleh mensyaratkan agunan tambahan untuk pinjaman sampai batas tersebut.
KUR Kecil
KUR Kecil ditujukan bagi usaha yang sudah berkembang dan membutuhkan modal lebih besar, dengan plafon di atas Rp100 juta sampai Rp500 juta per akad. Pola bunganya sama dengan KUR Mikro untuk sektor produksi dan perdagangan berorientasi ekspor, yaitu 6 persen efektif per tahun. Untuk perdagangan non-ekspor, bunga naik bertahap dari 6 persen pada akad pertama hingga 9 persen pada akad keempat. Karena plafonnya di atas Rp100 juta, agunan dapat dipersyaratkan oleh bank penyalur sesuai penilaian risiko, berbeda dengan KUR Mikro yang dilindungi ketentuan tanpa agunan tambahan.
Siapa yang Bisa Menerima KUR
Menurut Pasal 3 Permenko 1/2026, penerima KUR terdiri atas pelaku usaha mikro dan kecil dengan omzet tahun sebelumnya atau estimasi omzet tahun berjalan paling banyak Rp4,8 miliar. Batas omzet ini penting: usaha yang omzetnya sudah melewati batas tersebut tidak lagi masuk kategori penerima KUR mikro dan kecil. Selain itu, usaha yang diajukan haruslah usaha produktif yang dinilai layak, bukan sekadar usaha di atas kertas. Bank penyalur akan memeriksa apakah usaha benar-benar berjalan, misalnya lewat kunjungan, rekening koran, catatan penjualan, atau dokumen usaha lainnya.
Syarat Umum dan Dokumen yang Perlu Disiapkan
Syarat persis dapat berbeda antar bank penyalur, tetapi berdasarkan ketentuan 2026 dan praktik umum penyaluran, berikut syarat dan dokumen yang paling sering diminta. Menyiapkan semuanya sebelum datang ke bank akan mempercepat proses dan mengurangi bolak-balik.
Syarat umum
- Warga Negara Indonesia yang memiliki usaha produktif dan layak dibiayai.
- Untuk KUR Mikro dan Kecil, usaha pada umumnya sudah berjalan sekurang-kurangnya enam bulan. Ada pengecualian tertentu sebagaimana diatur dalam regulasi, misalnya untuk KUR Super Mikro bagi pengusaha pemula.
- Tidak sedang menerima kredit produktif lain yang melanggar ketentuan program, dan tidak memiliki riwayat kredit bermasalah yang belum diselesaikan. Bank akan memeriksa hal ini lewat SLIK OJK, jadi selesaikan tunggakan lama sebelum mengajukan.
- Usaha memiliki omzet dalam batas penerima KUR, yaitu paling banyak Rp4,8 miliar per tahun untuk kategori mikro dan kecil.
Dokumen yang perlu disiapkan
- Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) pemohon.
- Nomor Induk Berusaha (NIB) atau surat keterangan usaha yang diterbitkan pejabat berwenang.
- Informasi mengenai kegiatan usaha: jenis usaha, lokasi, lama berjalan, dan perkiraan omzet.
- Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) untuk pemohon KUR Mikro dengan pinjaman di atas Rp50 juta dan untuk pemohon KUR Kecil.
- Dokumen pendukung sesuai permintaan bank penyalur, misalnya rekening koran, catatan penjualan, foto tempat usaha, atau dokumen agunan untuk KUR Kecil.
Tips menyiapkan dokumen
Urutkan dokumen dalam satu map, fotokopi rangkap dua, dan simpan salinan digitalnya di ponsel. Banyak pengajuan tertunda bukan karena usahanya tidak layak, melainkan karena dokumen tidak lengkap atau NIB belum sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan. Jika NIB Anda masih memakai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) yang tidak sesuai dengan usaha berjalan, perbarui dulu lewat sistem OSS sebelum mengajukan. Langkah kecil ini sering menghemat berminggu-minggu proses verifikasi.
Cara Menghitung Cicilan KUR: Rumus dan Simulasi
Bagian ini paling sering dilewati, padahal paling menentukan. Jangan mengajukan pinjaman hanya karena plafonnya besar; ajukan pinjaman yang cicilannya sanggup dibayar dari arus kas usaha setiap bulan, bahkan pada bulan sepi.
Rumus angsuran anuitas
Bank umumnya memakai metode anuitas, yaitu angsuran bulanan tetap yang terdiri atas pokok dan bunga. Rumusnya:
Angsuran = P × i ÷ (1 − (1 + i)^−n)
dengan P adalah pokok pinjaman, i adalah bunga per bulan (bunga efektif per tahun dibagi 12), dan n adalah jumlah bulan tenor. Rumus ini menghasilkan perkiraan yang mendekati angsuran bank; angka final tetap mengikuti perhitungan dan biaya yang tercantum dalam penawaran bank.
Simulasi cicilan
Tabel berikut adalah hasil perhitungan dengan rumus di atas. Angka-angka ini adalah ilustrasi untuk membantu Anda membandingkan, bukan penawaran resmi dari bank mana pun. Biaya lain seperti biaya administrasi, asuransi, atau provisi — bila ada sesuai ketentuan bank — tidak termasuk dalam perhitungan ini, sehingga angsuran riil bisa sedikit berbeda.
| Pinjaman | Bunga efektif | Tenor | Angsuran per bulan (ilustrasi) | Total dibayar (ilustrasi) | Total bunga (ilustrasi) |
|---|---|---|---|---|---|
| Rp10 juta | 3 persen | 24 bulan | sekitar Rp430 ribu | sekitar Rp10,32 juta | sekitar Rp315 ribu |
| Rp50 juta | 6 persen | 36 bulan | sekitar Rp1,52 juta | sekitar Rp54,76 juta | sekitar Rp4,76 juta |
| Rp100 juta | 6 persen | 48 bulan | sekitar Rp2,35 juta | sekitar Rp112,73 juta | sekitar Rp12,73 juta |
| Rp200 juta | 6 persen | 48 bulan | sekitar Rp4,70 juta | sekitar Rp225,46 juta | sekitar Rp25,46 juta |
Cara menilai kemampuan membayar
Gunakan patokan praktik yang konservatif: total cicilan semua pinjaman sebaiknya tidak melebihi 30 sampai 40 persen dari laba bersih bulanan usaha, bukan dari omzet kotor. Omzet kotor bisa menipu karena sebagian besarnya adalah modal yang berputar, biaya bahan, dan ongkos operasional. Contohnya, usaha dengan omzet Rp20 juta per bulan tetapi laba bersih Rp5 juta per bulan sebaiknya membatasi total cicilan di kisaran Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per bulan. Dengan patokan itu, pinjaman Rp50 juta selama 36 bulan dengan angsuran sekitar Rp1,52 juta masih masuk akal, sedangkan pinjaman Rp100 juta selama 48 bulan dengan angsuran sekitar Rp2,35 juta sudah mendekati batas atas dan berisiko bila penjualan turun.
Uji juga skenario buruk sebelum mengajukan. Tanyakan pada diri sendiri: bila penjualan turun 30 persen selama tiga bulan, apakah cicilan tetap terbayar tanpa mengorbankan stok atau gaji karyawan? Bila jawabannya tidak, turunkan plafon atau perpanjang tenor — dengan catatan tenor lebih panjang berarti total bunga yang dibayar lebih besar. Keseimbangan antara angsuran yang ringan dan total bunga yang wajar adalah inti dari keputusan pinjaman yang sehat.
Langkah Mengajukan KUR ke Bank Penyalur
Alur pengajuan KUR pada umumnya mengikuti tahapan berikut. Urutan dan namanya bisa sedikit berbeda antar bank, tetapi substansinya sama.
- Tentukan kebutuhan dan jenis KUR. Hitung dulu kebutuhan modal yang sebenarnya: berapa untuk modal kerja (stok, bahan baku) dan berapa untuk investasi (peralatan, renovasi). Kebutuhan yang jelas membantu bank menentukan jenis KUR dan tenor yang tepat.
- Siapkan dokumen. Lengkapi e-KTP, NIB atau surat keterangan usaha, NPWP bila diperlukan, dan catatan keuangan sederhana. Catatan penjualan tiga sampai enam bulan terakhir sangat membantu meyakinkan analis kredit.
- Datangi bank penyalur atau kanal resminya. Ajukan permohonan dan sampaikan kebutuhan Anda secara jujur. Jangan melebih-lebihkan omzet atau menyembunyikan pinjaman lain; analis kredit akan menemukan ketidaksesuaian itu lewat SLIK dan verifikasi lapangan.
- Survei dan analisis kredit. Bank biasanya melakukan wawancara dan kunjungan ke tempat usaha untuk memastikan usaha benar-benar berjalan. Siapkan jawaban atas pertanyaan dasar: apa yang dijual, siapa pembelinya, berapa marginnya, dan untuk apa pinjaman dipakai.
- Keputusan dan penawaran. Bila disetujui, bank menyampaikan plafon, bunga, tenor, dan biaya yang berlaku. Baca penawaran ini dengan teliti, termasuk denda keterlambatan dan ketentuan pelunasan dipercepat.
- Akad dan pencairan. Setelah akad ditandatangani, dana dicairkan sesuai kesepakatan — ke rekening usaha atau langsung ke pemasok, tergantung skema bank. Simpan salinan akad dan jadwal angsuran.
Memantau status pengajuan
Status pengajuan KUR dapat dipantau melalui Sistem Informasi Kredit Program (SIKP), sistem yang dipakai pemerintah untuk mencatat penyaluran kredit program. Bila bank penyalur memberikan nomor registrasi atau rujukan, tanyakan juga cara memantau statusnya agar Anda tidak hanya menunggu tanpa kabar. Bila pengajuan ditolak, mintalah alasan tertulisnya. Alasan penolakan adalah informasi berharga: riwayat kredit, dokumen, atau kelayakan usaha — masing-masing punya cara perbaikan yang berbeda.
Kesalahan yang Sering Membuat Pengajuan KUR Ditolak
Sebagian besar penolakan KUR bukan karena usahanya buruk, melainkan karena hal-hal yang sebenarnya bisa diperbaiki sebelum mengajukan.
- Riwayat kredit bermasalah. Tunggakan kartu kredit, cicilan kendaraan, atau pinjaman lain yang belum diselesaikan akan terlihat di SLIK OJK. Selesaikan dan tunggu catatan membaik sebelum mengajukan.
- Dokumen usaha tidak sesuai kenyataan. NIB dengan bidang usaha berbeda, alamat usaha yang tidak bisa diverifikasi, atau usaha yang ternyata tidak beroperasi adalah alasan penolakan yang umum.
- Omzet dilebih-lebihkan. Analis membandingkan omzet yang Anda klaim dengan rekening koran dan catatan penjualan. Ketidaksesuaian merusak kepercayaan dan hampir pasti berujung penolakan.
- Plafon terlalu besar untuk arus kas. Mengajukan Rp500 juta untuk usaha dengan laba Rp3 juta per bulan menunjukkan perhitungan yang tidak realistis. Ajukan sesuai kemampuan membayar.
- Mengajukan lewat perantara tidak resmi. Selain berisiko penipuan, pengajuan lewat perantara yang memalsukan dokumen dapat membuat Anda masuk daftar hitam penyalur.
- Pinjaman dipakai di luar rencana. Dana KUR yang dipakai untuk konsumsi atau menutup utang lain, bukan untuk usaha, melanggar tujuan program dan dapat menimbulkan masalah hukum maupun penagihan.
KUR Dibandingkan dengan Pinjaman Usaha Lainnya
Memahami posisi KUR di antara pilihan pembiayaan lain membantu Anda memutuskan apakah KUR memang pilihan terbaik, atau justru ada opsi yang lebih sesuai.
| Pilihan pembiayaan | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|
| KUR | Bunga disubsidi (mulai 3 persen), tanpa agunan tambahan sampai Rp100 juta, tenor relatif panjang | Proses seleksi ketat, plafon dibatasi, wajib usaha produktif yang terverifikasi |
| Kredit usaha bank non-subsidi | Plafon lebih fleksibel, proses bisa lebih cepat bagi nasabah lama | Bunga komersial jauh lebih tinggi, umumnya mensyaratkan agunan dan laporan keuangan lengkap |
| Pinjaman online legal | Cair cepat, syarat dokumen ringan | Bunga dan biaya tinggi, tenor pendek, angsuran besar relatif terhadap pokok |
| Modal dari koperasi atau BUMDes | Dekat dengan komunitas, syarat bisa lebih luwes | Plafon biasanya kecil, ketersediaan dana terbatas |
| Dana pribadi atau keluarga | Tanpa bunga dan tanpa prosedur | Menguras tabungan, mencampur uang pribadi dan usaha, berisiko konflik bila usaha merugi |
Sebagai patokan praktik, gunakan KUR untuk kebutuhan usaha yang menghasilkan arus kas tambahan — misalnya menambah stok yang perputarannya cepat atau membeli peralatan yang menaikkan kapasitas produksi. Hindari pinjaman berbunga untuk menutup kerugian operasional yang berulang tanpa memperbaiki penyebabnya, karena pinjaman baru hanya menunda masalah, bukan menyelesaikannya.
Daftar Periksa Sebelum Menandatangani Akad
Jangan menandatangani akad dalam keadaan terburu-buru. Luangkan waktu membaca seluruh dokumen, dan gunakan daftar periksa berikut.
- Plafon, bunga efektif, tenor, dan jumlah angsuran bulanan sesuai dengan penawaran awal.
- Biaya yang dibebankan: administrasi, provisi, asuransi, dan denda keterlambatan — semuanya tertulis jelas, bukan hanya janji lisan.
- Jadwal angsuran dan tanggal jatuh tempo sesuai dengan siklus kas usaha Anda (misalnya setelah tanggal gajian pelanggan atau panen).
- Ketentuan pelunasan dipercepat: apakah ada penalti bila Anda melunasi lebih awal.
- Agunan yang diikat (untuk KUR Kecil) sudah dipahami, termasuk apa yang terjadi bila gagal bayar.
- Tujuan penggunaan dana sesuai dengan rencana usaha, dan Anda menyimpan salinan akad beserta jadwal angsuran.
- Anda tahu ke mana harus menghubungi bila ada masalah pembayaran — cabang bank penyalur, bukan perantara.
Bila ada klausul yang tidak Anda pahami, tanyakan langsung kepada petugas bank dan mintalah penjelasan tertulis. Menandatangani dokumen yang tidak dipahami adalah kesalahan yang biayanya bisa jauh lebih besar daripada waktu yang dihemat.
FAQ
Apakah semua UMKM pasti disetujui KUR?
Tidak. KUR adalah kredit program, bukan bantuan yang wajib diterima. Bank penyalur tetap menilai kelayakan usaha, dokumen, dan riwayat kredit. Usaha yang layak dan debitur yang rekam kreditnya bersih memiliki peluang jauh lebih besar untuk disetujui.
Berapa plafon KUR tertinggi pada 2026?
Untuk kategori yang umum diakses UMKM, plafon tertinggi adalah KUR Kecil, yaitu di atas Rp100 juta sampai Rp500 juta per akad. KUR Super Mikro paling banyak Rp10 juta dan KUR Mikro di atas Rp10 juta sampai Rp100 juta.
Apakah KUR sampai Rp100 juta benar-benar tanpa agunan?
Ya, menurut Pasal 20 Permenko 1/2026, penyalur KUR tidak diperbolehkan mensyaratkan agunan tambahan untuk pinjaman sampai Rp100 juta. Untuk KUR Kecil di atas Rp100 juta, agunan dapat dipersyaratkan sesuai penilaian bank.
Apakah usaha baru bisa mengajukan KUR?
KUR Super Mikro dirancang antara lain untuk pengusaha pemula. Namun untuk KUR Mikro dan Kecil, usaha pada umumnya harus sudah berjalan sekurang-kurangnya enam bulan, dengan pengecualian tertentu sesuai regulasi. Bila usaha Anda baru berjalan, mulailah dari KUR Super Mikro atau perkuat dulu catatan penjualan beberapa bulan.
Apakah NPWP wajib untuk semua pengajuan KUR?
Tidak untuk semua. NPWP diperlukan bagi pemohon KUR Mikro dengan pinjaman di atas Rp50 juta dan bagi pemohon KUR Kecil. Untuk pinjaman yang lebih kecil, e-KTP dan dokumen usaha umumnya sudah cukup, tetapi bank penyalur dapat meminta dokumen tambahan sesuai kebijakannya.
Bagaimana cara mengecek apakah pengajuan KUR saya diproses?
Tanyakan nomor registrasi atau rujukan kepada bank penyalur dan cara memantau statusnya melalui Sistem Informasi Kredit Program (SIKP). Bila pengajuan ditolak, mintalah alasan tertulis agar Anda tahu apa yang harus diperbaiki sebelum mengajukan ulang.
Kesimpulan
KUR 2026 memberi peluang nyata bagi UMKM yang membutuhkan modal dengan bunga bersubsidi: Super Mikro sampai Rp10 juta dengan bunga 3 persen, Mikro sampai Rp100 juta tanpa agunan tambahan, dan Kecil sampai Rp500 juta untuk usaha yang sudah berkembang. Namun peluang itu hanya bermanfaat bila pinjaman diambil dengan perhitungan yang benar. Tentukan kebutuhan riil, hitung cicilan dari laba bersih — bukan dari omzet kotor — dan pastikan cicilan tetap terbayar pada skenario penjualan yang menurun.
Persiapkan dokumen sejak awal, jujur soal kondisi usaha dan pinjaman lain, dan baca akad sampai paham sebelum menandatangani. Bila pengajuan ditolak, jadikan alasan penolakannya sebagai peta perbaikan, bukan alasan untuk beralih ke pinjaman berbunga tinggi yang justru memperberat arus kas. Kredit yang sehat adalah kredit yang membuat usaha bertumbuh, bukan kredit yang membuat pemilik usaha tidur tidak nyenyak setiap tanggal jatuh tempo.
Artikel ini disusun sebagai edukasi umum tentang ketentuan KUR dan cara menghitung cicilan. Artikel ini bukan saran keuangan atau rekomendasi pinjaman pribadi, dan tidak menggantikan penjelasan resmi dari bank penyalur atau otoritas terkait. Ketentuan program dapat berubah; selalu konfirmasikan plafon, bunga, dan syarat terbaru kepada bank penyalur resmi sebelum mengajukan.
Sumber Resmi yang Dirujuk
- Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat — ketentuan jenis KUR, plafon, bunga, syarat usaha berjalan enam bulan, NPWP, dan larangan agunan tambahan sampai Rp100 juta (Pasal 20), sebagaimana dirangkum dalam pemberitaan dan keterangan resmi Kemenko Perekonomian pada Oktober 2026.
- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian — keterangan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, 22 Oktober 2026, tentang ketentuan KUR 2026 dan realisasi penyaluran.
- Portal KUR Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (kur.ekon.go.id) — informasi umum program Kredit Usaha Rakyat dan Sistem Informasi Kredit Program (SIKP).
- Otoritas Jasa Keuangan (ojk.go.id) — Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) sebagai sumber pengecekan riwayat kredit debitur.